Sebagai salah satu parameter keberhasilan kinerja suatu bisnis bisa dilihat dari tercapainya target laba. Dan dari target laba tahun 2007 yang dipatok manajemen Bank Jatim sebesar Rp 582 miliar, terealisasi Rp 587 miliar. Sementara itu tingkat LDR Bank Jatim tahun 2007 sebesar 42,07% masih belum memenuhi target yang telah ditentukan 50,15% dimana realisasi atas target penyaluran kredit kurang Rp 1.025 miliar. Hal ini dinyatakan oleh Komisaris Utama Bank Jatim Dr H Soekarwo, SH, M.Hum, ketika memberikan sambutannya pada Rapat Kaji Ulang Bank Jatim tanggal 18 Februari lalu di depan para direksi, pemimpin divisi, dan para pemimpin cabang Bank Jatim.
Mendahului pernyataan di atas, Soekarwo menyebut, tujuan diadakannya forum ini adalah untuk mengevaluasi diri terhadap apa yang telah dilakukan dalam tahun 2007, termasuk evaluasi kekurangan-kekurangan, kendala dam solusi yang telah dilaksanakan, untuk selanjutnya berupaya mewujudkan komitmen bersama demi keberhasilan Bank Jatim sesuai dengan Rencana Bisnis yang sudah ditetapkan, sekaligus sebagai dasar pijak kebijakan Renbis tahun 2008.
Lebih lanjut dinyatakannya, saya yakin Bapak Ibu telah berupaya keras secara maksimal, terutama dalam catur wulan ketiga ini. Untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih, terbukti pencapaian laba kita di atas target yang ditentukan. Sebenarnya terdapat unsur-unsur sundry profit yaitu adanya pendapatan-pendapatan non-operasional yang kebetulan dapat menolong target klaba. Tahun ini kita tidak dapat mengandalkan lagi penanaman dana iddle yang lebih pada instrumen SBI. Hal ini juga merupakan salah satu tantangan yang harus dijawab dengan upaya keras Bapak Ibu sekalian.
Masa depan Bank Jatim, tutur Soekarwo, menghadapi masalah yang cukup berat, di mana persaingan makin ketat, lebih-lebih lagi dengan mudahnya bank membuka cabang di daerah-daerah termasuk serbuan cabang-cabang bank asing yang membuat bank-bank kecil sulit untuk berkembang.
Dalam menghadapi kondisi ini maka agar bank Jatim tumbuh dan berkembang, diperlukan beberapa langkah sebagai berikut: Perlu hendaknya merapatkan barisan, meningkatkan koordinasi dengan menyatukan visi dan menyelaraskan kepentingan individu dengan kepentingan perusahaan; Perlunya meningkatkan dan mewujudkan komitmen bersama dalam mewujudkan visi Bank Jatim menjadikan banknya masyarakat Jawa Timur; Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia, melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan; Meningkatkan mutu pelayanan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan agar pelanggan tetap menjadi nasabah Bank Jatim yang setia. "Bila hal-hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka walaupun masalah yang dihadapi Bank Jatim ke depan cukup berat, namun Insya Allah Bank Jatim akan berkembang sesuai rencana.
Berbicara masalah prospek, Komisaris Utama Bank Jatim ini menyatakan, perkembangan perekonomian ahun 2008 tidak terlalu berbeda jauh dengan perkembangan perekonomian tahun 200 yaitu sekitar 6, %. Hal ini, menurut Soekarwo, terutama dipengaruhi beberapa hal, antara lain: Melambatnya perkembangan perekonomian negara-negara maju yang menjadi tujuan ekspor Indonesia; Harga bahan bakar minyak dunia yang sudah mencapai US$ 90/barel sangat berpengaruh pada peningkatan kebutuhan dan perekonomian dunia; Naiknya harga BBM dunia sangat mempengaruhi harga BBM dalam negeri, sehingga harga-harga barang kebutuhan barang dan jasa meningkat cukup signifikan; Meningkatnya harga-harga barang dan jasa berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lamban. Demikian pula sektor riilnya.
Dengan kondisi demikian, lontar Soekarwo, peluang apa yang bisa diraih Bank Jatim? Sebagaimana diketahui, dalam Renbis 2008, Bank Jatim merencanakan ekspansi kredit sampai 35% atau lebih kurang Rp 2 triliun. Sementara dalam tahun 2007 pertumbuhan ekonominya 6,3% ekspansi kredit rata-ratanya nasional mencapai 25,5%. Dengan demikian rencana ekspansi kredit Bank Jatim yang 35% itu melampaui rata-rata ekspansi kredit nasional.(adi)