Meski gencar membidik kredit korporasi melalui sektor inftrastruktur, sebagai bank focus Bank Jatim tetap menjalankan fungsi intermediasi pada sektor kredit UMKM. Salah satunya dengan melaksanakan linkage program dengan Badan Perkreditan Rakyat (BPR) tahun ini.
Seperti diketahui, saat ini kredit korporasi masih berkisar 7%. Sedangkan target akhir tahun ini bisa meningkat hingga 10%-15% untuk mencapai target perusahaan di mana komposisi nantinya secara stabil kredit korporasi 20% dan kredit UMKM 80%.
Kebijakan ini sekaligus menindaklanjuti program Bank Indonesia untuk menerapkan linkage program dalam upaya mendorong sector UMKM melalui BPR.
Pelaksanaan linkage program ditandai dalam acara “Sosialisasi BPP Kredit Mikro & Kecil untuk Linkage Program dan seminar Motivasi” yang digelar di Kantor Bank Jatim Jalan Basuki Rahmat lantai 5 selama dua hari, tanggal 18-19 Maret 2008. Sosialisasai ini diikuti oleh para perwakilan seluruh 38 cabang Bank Jatim.
“Sebagai lembaga perbankan mikro, BPR merupakan akses tercepat ke sektor UMKM. Tak ada salahnya membentuk linkage program dengan BPR. Ini sekaligus sebagai akses tercepat dalam mendongkrak fungsi intermediasi,” kata Direktur Pemasaran Bank Jatim Sjamsul Arifin Djailani dalam kata sambutannya.
Diakuinya, saat ini fungsi intermediasi Bank Jatim yang ditunjukkan melalui angka loan to deposite (LDR) masih di angka 43 %. Dengan target ekspansi kredit tahun ini sebesar 35% menjadi Rp 7,4 triliun (baik korporasi maupun UMKM) diharapkan target LDR di angka 55% bisa tercapai.
Untuk pelaksanaan linkage program tahun ini, Sjamsul menargetkan setiap cabang Bank Jatim bisa merealisasikan linkage program dengan minimal satu BPR. “Jika satu linkage program senilai Rp 5 miliar saja maka untuk 38 cabang total kredit yang bisa disalurkan sekitar Rp 200 miliar tahun ini,” katanya.
Tentang bagaimana bentuk linkage program yang diinginkan,Sjamsul tidak mematok pilihan apakah harus bentuk chanelling atau eksekuting. Untuk sistem eksekuting risiko ada di pundak bank, sedangkan channeling diserahkan kepada BPR. Oleh karenanya menurut Sjamsul lebih baik disesuaikan denga kondisi dan kebutuhan masing-masing cabang dalam kerjasama tersebut.
Sementara itu Pemimpin Sub Divisi Kredit Menengah Korporasi Bank Jatim, Tony Sudjiaryanto menambahkan, saat ini linkage program yang sudah disetujui dan ditandatangani adalah kerjasama Kantor Cabang Dr Soetomo dengan satu BPR di Surabaya senilai Rp 5 miliar. Sedangkan kerjasama Cabang Ponorogo dengan satu BPR senilai Rp 5 miliar juga sudah disetujui. “Saat ini masih dalam proses sosialisasi,” kata Tony.
Menyinggung tentang pilihan bentuk linkage program Tony memberi gambaran jika menggunakan bentuk eksekuting maka nilai kredit akan muncul pada outstanding kredit Bank Jatim. Sehingga bisa mendongkrak fungsi intermediasi Bank Jatim.
“Namun pelaksanaan di lapangan setiap cabang berbeda kondisinya sehingga diserahkan pada masing-masing cabang. Yang terpenting sesuai prosedur dan lancar,” katanya. (nas)